Oleh: dinkessemarang | Februari 6, 2009

FOCUSSED GROUP DISCUSION (FGD) SEKOLAH BEBAS ROKOK

FGD Sekolah Bebas Rokok

FGD Sekolah Bebas Rokok

“SELAMATKAN GENERASI KITA DARI RACUN ROKOK!!!”

Dalam rangka mewujudkan sekolah sebagai tempat kawasan bebas rokok, Dinas Kesehatan Kota Semarang bekerja sama dengan Komunitas Peduli Kawasan Tanpa Rokok (KPKTR) Kota Semarang, menyelenggarakan Focussed Group Discusion (FGD) Sekolah Bebas Rokok yang telah diselenggarakan pada: Kamis, 29 Januari 2009, Pukul 08.30 s/d 12.00, bertempat di Hotel Grasia-RuangAsoka, Jalan Let.Jend.
S.Supratman No.29 Semarang, dengan jumlah peserta yang hadir ± 50 orang, terdiri dari: 16 (enam belas) Kepala Sekolah/Guru Kesiswaan SMP/sederajat dan 16 (enam belas) Kepala Sekolah/Guru Kesiswaan SMA/sederajat, perwakilan LSM Yayasan Setara, LSM Graha Mitra, Pramuka Saka Bakti Husada, Yayasan Jantung Sehat, LSM Bintari, Formakoli, LP2K, dan Dinas Kesehatan Kota Semarang.

FGD “Sekolah Bebas Rokok” merupakan forum diskusi untuk memperoleh masukan dari penggerak di lingkungan institusi pendidikan, bagaimana satu pola dapat mewujudkan kawasan tanpa/bebas rokok tercipta di sekolah-sekolah yang merupakan tempat proses belajar mengajar yang sasarannya tidak hanya anak didik tetapi juga termasuk masyarakat sekolah lainnya, seperti kepala sekolah, guru, penjaga kantin, petugas keamanan, tukang parkir sampai dengan tukan kebon sekolah harus dapat melaksanakan komitmen tentang mewujudkan kawasan tanpa/bebas rokok.
FGD “Sekolah Bebas Rokok” dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang (Dr.Tatik Suyarti,M.Kes), dalam sambutannya disampaikan bahwa asap rokok tidak hanya berbahaya bagi yang merokok saja (Perokok aktif) akan tetapi juga berdampak pada masyarakat yang bukan perokok namun terpapar oleh asap rokok orang lain (Perokok pasif). Padahal jumlah non perokok yang terpapar asap rokok orang lain di Indonesia cukup tinggi. Pada tahun 1999 sebanyak 57% rumah tangga mempunyai sedikitnya 1 perokok dalam rumah dan hampir semuanya merokok dalam rumah. Sementara diperkirakan lebih dari dari 97 juta penduduk Indonesia terpapar asap rokok orang lain dengan komposisi 65 juta Perempuan dan 31 juta Laki-laki, dimana 43 juta diantaranya berusia 0–14 th yg merupakan seluruh populasi usia 0 – 14 tahun.
Sementara studi di Jakarta menunjukkan bahwa 84% dari anak sekolah usia 13-15 tahun terpapar asap rokok orang lain di tempat-tempat umum (Fact Sheet,terbitan TSCS Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia).

Sementara hasil survey LP2K Semarang di Kota Semarang pada tahun 2008 menunjukkan 40% perokok merokok di tempat umum, 64% merokok di tempat kerja dan 16% merokok di dalam angkutan umum.

PP No.19 Tahun 2003 Tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan Pasal 22 menyatakan bahwa tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik digunakan untuk belajar, arena bermain anak, tampat ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Pasal 25 menyatakan bahwa Pemerintah Daerah wajib mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok.

Dalam rangka mewujudkan sekolah sebagai tempat kawasan bebas rokok, kami berharap di dalam FGD nanti akan diperoleh suatu pola yang secara local spesific mampu mewujudkan sekolah-sekolah terutama 16 SMP/sederajat dan 16 SMA/sederajat yang terpilh untuk lokasi penyelenggaraan Kampanye Anti Merokok Usia Dini, yang akan diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang bersama-sama Dinas Pendidikan Kota Semarang dan KPKTR Kota Semarang, yang rencana jadwal pelaksanaannya sekitar bulan Maret-April 2009.

Pada kesempatan forum diskusi tersebut, Ketua KPKTR (Bp.Abdun Mufid) telah menyampaikan paparan tentang Sekolah Sebagai Kawasan Tanpa Rokok, yg memuat antara lain:
larangan penggunaan rokok di lingkungan sekolah bagi semua orang, dan larangan promosi rokok di lingkungan sekolah.

Forum diskusi sangat menarik, masing-masing perwakilan sekolah menyampaikan berbagai himbauan, usulan, sampai pengalaman pribadi bagaimana sulitnya menghentikan merokok, dan bagaimana upaya-upaya yang telah dilakukan agar anak didik tidak merokok di lingkungan sekolah, namun fenomena yang ada saat sekarang justru masih ada sebagian guru/pengajarnya yang merokok di lingkungan sekolah…….nah ini yang dinamakan “jarkoni” alias “iso ngajari ora iso nglakoni”.

Dari fenomena dan pengalaman itulah, maka dalam Forum diskusi yang telah berlangsung sampai dengan pk.12.00 WIB, diperoleh satu kesepakatan bahwa dalam rangka mewujudkan sekolah sebagai tempat kawasan bebas rokok merupakan dukungan untuk segera diterbitkan Peraturan Walikota tentang Kawasan Terbatas Merokok (KTM) untuk Tempat Kerja dan Tempat-Tempat Umum, yaitu tetap dibolehkan merokok di tempat yang disediakan (smoke area) dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) untuk Sarana Kesehatan, Tempat Ibadah, Tempat Bermain Anak, dan Tempat yang secara spesifik digunakan untuk belajar (formal/informal), dan angkutan umum.
Dalam mewujudkan sekolah sebagai tempat kawasan bebas rokok, juga diperlukan strategi, dimana seluruh penggerak pendidikan agar segera melakukan sosialisasi di sekolah dan di lingkungan terdekat, serta perlu diperbanyak gambar-gambar ekstrim tentang bahaya merokok sebagai media informasi bagi masyarakat sekolah.

Oleh: Tuti Ekawati,S.IP,M.Kes
Sie Promkes & Infokes
Dinkes Kota Semarang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: