Oleh: dinkessemarang | Juni 3, 2009

Puskemas yang ideal

Pada 1 Maret 1999 oleh Presiden Habibie dicanangkan : “Gerakan Pembangunan yang Berwawasan Kesehatan”, atau dikenal dengan “Paradigma sehat”. Sebagai konsekuensinya adalah bahwa semua sektor harus mempertimbangkan dampaknya di bidang kesehatan, minimal harus memberi kontribusi dan tidak merugikan pertumbuhan lingkungan dan perilaku sehat. Pada pencanangan tersebut disebutkan bahwa visi pembangunan kesehatan adalah: Indonesia Sehat 2010, dengan misi: (1) Menggerakkan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan; (2) Mendorong kamandirian masyarakat untuk hidup sehat; (3) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu; dan (4) Meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat termasuk lingkungannya. Salah satu pilar Indonesia Sehat 2010 tersebut adalah : perilaku sehat, disamping dua pilar lainnya yaitu: lingkungan sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata.

Realisasi paradigma sehat yang sebagian besar tertuang di dalam Visi Indonesia Sehat 2010 tersebut, masih cukup jauh dari harapan. Faktor penyebab kondisi tersebut diantaranya adalah kebijakan kesehatan kita yang masih terjebak dalam level kuratif (pengobatan) yang sangat bertolak belakang dengan Paradigma Sehat yang lebih menomorsatukan terbangunnya kesadaran sehat di masyarakat. Kesadaran sehat ini akan banyak berpengaruh terhadap status kesehatan setiap orang.

Lewat kebijakan kuratif ini, pemerintah masih euphoria dengan menghabiskan uang banyak dan waktu berpikir tentang bagaimana mengobati penyakit dan menanggulangi wabah epidemik yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, secara struktural, hingga institusi pelayanan kesehatan paling bawah, Puskesmas, telah terjadi kesalahan kategorial dalam memetakan problem kesehatan. Program – program pengobatan penyakit berjalan paralel dengan semakin meningkatnya angka kematian akibat penyakit bersangkutan. Fenomena ini, jika dikaji secara rasional mestinya lebih difokuskan pada upaya penanggulangan penyakit melalui strategi promosi dan prevensi kesehatan di semua lini.

Apalagi setelah otonomi daerah, sebagian besar kebijakan sektor kesehatan dilimpahkan kepada daerah, ada pemda yang beranggapan bahwa puskesmas cuma pelengkap, bukan ujung tombak pembangunan kesehatan. Maka, keberadaannya dianggap tidak penting, tak ada pun tak mengapa. Kalaupun ada, tak perlu banyak – banyak, sebab boleh jadi buat pemda puskesmas bukan kuda pacu sektor penyetor terbaik, dan mungkin dianggap pos rugi belaka. Karena sektor kesehatan dianggap ongkos, dan bukan investasi. Bahkan ada puskesmas yang dibubarkan / ditutup karena dianggap tidak bisa memenuhi target pendapatan yang ditetapkan. Hal ini terjadi lantaran konsep puskesmas belum dipahami betul oleh semua daerah.

Seringkali untuk memenuhi target yang ditetapkan, puskesmas di beberapa kota besar membuka rawat inap (meskipun di kota tersebut sudah banyak berdiri puluhan rumah sakit), dengan harapan pendapatan dari puskesmas menjadi lebih tinggi, dengan segala keterbatasan fasilitas dan tenaga yang dimiliki.

Sebagaimana lazim dipahami, mestinya puskesmas bukanlah rumah sakit. Yang dikerjakan puskesmas tidak semata urusan mengobati orang sakit sebagaimana halnya tugas pokok rumah sakit. Urusan mengobati orang sakit hanya satu di antara lebih dari 10 program puskesmas. Kesemua program itulah yang disusun untuk mampu meningkatkan kesehatan warga di wilayah kerja puskesmas .

Kalau rumah sakit cuma menunggu kapan orang sakit datang berobat, puskesmas terlebih harus menjemput, mendatangi, menjenguk, menghampiri warga, dan memberikan pencerahan, serta memberdayakan masyarakat agar tetap selalu sehat. Maka, puskesmas yang ideal itu harus lebih banyak bekerja di lapangan ketimbang duduk menunggu orang sakit datang. Tugas pokok puskesmas adalah bagaimana agar warga yang sehat tidak sampai jatuh sakit, yang sudah sakit tidak sampai menularkan penyakit, yang lemah dikuatkan, yang kurang gizi ditambahkan, yang telanjur sakit diobati dan dinasihati agar tidak jatuh sakit yang sama lagi, dan tak sampai terjadi komplikasi.

Puskesmas memiliki program pemberdayaan masyarakat, kesehatan lingkungan, gizi dan kegiatan lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat, namun dilematisnya di puskesmas jumlah petugas lapangan dan sarana transportasi sangat terbatas. Apalagi petugas penyuluh kesehatan atau promosi kesehatan, sangatlah minim sekali. Bahkan ada puskesmas yang sarana transportasi / kendaraan operasionalnya justru dipakai bukan petugas lapangan. Padahal banyak penyakit yang dapat dicegah dengan memberdayakan potensi yang ada di masyarakat, sehingga kejadian diare, demam berdarah, chikungunya, TBC, cacar dan penyakit lainnya dapat terhindar. Terlebih puskesmas rawat inap, seluruh petugas yang ada dikonsentrasikan untuk pelayanan rawat inap, sehingga porsi ke lapangan / masyarakat menjadi semakin berkurang.

Petugas puskesmas idealnya menyisihkan lebih dari dua pertiga jam kerjanya di lapangan, bukan duduk menunggu di poliklinik. Untuk itu, petugas puskesmas perlu menyusun program, bertemu dengan pamong dan tokoh masyarakat, kader, urun rembuk dengan masyarakat, selain menjalin kerja sama dengan sektor di luar kesehatan (lintas sektoral). Itu semua dilakukan untuk memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Misalnya, kesepakatan membuat selokan, sumur, jamban, tempat pembuangan sampah, saluran air bersih, apotek hidup, dan upaya-upaya perbaikan kesehatan keluarga lainnya, bukan semata-mata hanya memberi obat seperti lazimnya dilakukan rumah sakit.

Keberhasilan puskesmas ditentukan oleh beberapa hal, antara lain oleh semakin menurunnya angka pengunjung orang sakit, dan pengunjung yang sakit bukan mengidap penyakit yang itu-itu saja lagi. Selain itu, semakin hari mestinya semakin banyak orang sehat yang datang berkunjung. Bayi sehat datang untuk imunisasi, ibu yang minta nasihat gizi, vaksinasi kehamilan, ikut KB, dan remaja yang minta konsultasi narkoba, AIDS, seksualitas, atau masalah kejiwaan, dan pengunjung penyuluhan kesehatan semakin banyak. Di situ perbedaan besar puskesmas dengan rumah sakit. Puskesmas adalah ujung tombak, barisan paling depan sektor kesehatan, yang tahu persis masalah kesehatan masyarakat di wilayahnya, lalu berupaya mencari solusinya dengan sumber daya, dana, dan fasilitas yang tersedia. Dengan upaya-upaya preventif demikian diharapkan anggaran untuk obat semakin kecil, sebagai dampak positif dari tugas lapangan puskesmas yang semakin besar dan meluas, yang sakit menjadi semakin sedikit.

Sudah sangat dipahami bahwa sebagian besar orang sakit yang datang berobat ke puskesmas tak perlu terjadi jika semua jajaran puskesmas lebih sering datang mengunjungi warga. Seperti itu seyogianya yang menjadi model pembangunan kesehatan di akar rumput.

Tugas puskesmas yang berada di barisan terdepan, yang paling dekat dengan masyarakat, dan bukan rumah sakit, untuk memperbaikinya. Rumah sakit hanya menampung dampak buruk yang ditimbulkan jika layanan kesehatan dasar puskesmas gagal dikerjakan. Kegagalan puskesmas tecermin dari semakin membludaknya angka kunjungan rumah sakit, tanda orang sakit tak berhasil dicegah.

Jadi, yang kita butuhkan buat masyarakat akar rumput, empat perlima masyarakat kita yang masih bermasalah, memerlukan lebih banyak lagi puskesmas, bukan justru mengurangi, atau menutupnya. Peran dan kinerja puskesmas yang justru harus terus ditingkatkan agar beban rumah sakit tidak terus bertambah berat seperti terlihat sekarang.

Yang berkunjung ke rumah sakit sesungguhnya tak perlu sakit. Mereka rata-rata masyarakat yang telanjur jatuh sakit karena tidak dibina agar tidak sakit, dan penyakitnya tidak dibiarkan telanjur parah sebab tidak segera diobati selagi masih dini.

Kehadiran dan kinerja puskesmas harus menjadi tanggung jawab kita semua, bukan semata urusan bupati, kepala desa, dokter puskesmas serta jajaran sektor kesehatan belaka, melainkan keprihatinan kita semua, termasuk pamong, bahwa kesehatan adalah investasi–bukan ongkos yang terbuang percuma.

Menjadi tugas mulia setiap puskesmas untuk tidak letih – letih merawat, menjaga, memelihara sosok kesehatan seluruh masyarakat di wilayahnya, masyarakat akar rumput khususnya, agar tidak jatuh sakit yang tidak perlu, karena sesungguhnya puskesmas bisa membantu mencegahnya dengan cara murah dan sederhana.

Dengan “paradigma sehat” yang mengedepankan kegiatan preventif dan promotif di semua puskesmas, insya Allah visi Indonesia Sehat 2010 yang tinggal beberapa saat lagi akan dapat terwujud. Semoga….

By: Sumarsono

Pada 1 Maret 1999 oleh Presiden Habibie dicanangkan : “Gerakan Pembangunan yang Berwawasan Kesehatan”, atau dikenal dengan “Paradigma sehat”. Sebagai konsekuensinya adalah bahwa semua sektor harus mempertimbangkan dampaknya di bidang kesehatan, minimal harus memberi kontribusi dan tidak merugikan pertumbuhan lingkungan dan perilaku sehat. Pada pencanangan tersebut disebutkan bahwa visi pembangunan kesehatan adalah: Indonesia Sehat 2010, dengan misi: (1) Menggerakkan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan; (2) Mendorong kamandirian masyarakat untuk hidup sehat; (3) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu; dan (4) Meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat termasuk lingkungannya. Salah satu pilar Indonesia Sehat 2010 tersebut adalah : perilaku sehat, disamping dua pilar lainnya yaitu: lingkungan sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata.

Realisasi paradigma sehat yang sebagian besar tertuang di dalam Visi Indonesia Sehat 2010 tersebut, masih cukup jauh dari harapan. Faktor penyebab kondisi tersebut diantaranya adalah kebijakan kesehatan kita yang masih terjebak dalam level kuratif (pengobatan) yang sangat bertolak belakang dengan Paradigma Sehat yang lebih menomorsatukan terbangunnya kesadaran sehat di masyarakat. Kesadaran sehat ini akan banyak berpengaruh terhadap status kesehatan setiap orang.

Lewat kebijakan kuratif ini, pemerintah masih euphoria dengan menghabiskan uang banyak dan waktu berpikir tentang bagaimana mengobati penyakit dan menanggulangi wabah epidemik yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, secara struktural, hingga institusi pelayanan kesehatan paling bawah, Puskesmas, telah terjadi kesalahan kategorial dalam memetakan problem kesehatan. Program – program pengobatan penyakit berjalan paralel dengan semakin meningkatnya angka kematian akibat penyakit bersangkutan. Fenomena ini, jika dikaji secara rasional mestinya lebih difokuskan pada upaya penanggulangan penyakit melalui strategi promosi dan prevensi kesehatan di semua lini.

Apalagi setelah otonomi daerah, sebagian besar kebijakan sektor kesehatan dilimpahkan kepada daerah, ada pemda yang beranggapan bahwa puskesmas cuma pelengkap, bukan ujung tombak pembangunan kesehatan. Maka, keberadaannya dianggap tidak penting, tak ada pun tak mengapa. Kalaupun ada, tak perlu banyak – banyak, sebab boleh jadi buat pemda puskesmas bukan kuda pacu sektor penyetor terbaik, dan mungkin dianggap pos rugi belaka. Karena sektor kesehatan dianggap ongkos, dan bukan investasi. Bahkan ada puskesmas yang dibubarkan / ditutup karena dianggap tidak bisa memenuhi target pendapatan yang ditetapkan. Hal ini terjadi lantaran konsep puskesmas belum dipahami betul oleh semua daerah.

Seringkali untuk memenuhi target yang ditetapkan, puskesmas di beberapa kota besar membuka rawat inap (meskipun di kota tersebut sudah banyak berdiri puluhan rumah sakit), dengan harapan pendapatan dari puskesmas menjadi lebih tinggi, dengan segala keterbatasan fasilitas dan tenaga yang dimiliki.

Sebagaimana lazim dipahami, mestinya puskesmas bukanlah rumah sakit. Yang dikerjakan puskesmas tidak semata urusan mengobati orang sakit sebagaimana halnya tugas pokok rumah sakit. Urusan mengobati orang sakit hanya satu di antara lebih dari 10 program puskesmas. Kesemua program itulah yang disusun untuk mampu meningkatkan kesehatan warga di wilayah kerja puskesmas .

Kalau rumah sakit cuma menunggu kapan orang sakit datang berobat, puskesmas terlebih harus menjemput, mendatangi, menjenguk, menghampiri warga, dan memberikan pencerahan, serta memberdayakan masyarakat agar tetap selalu sehat. Maka, puskesmas yang ideal itu harus lebih banyak bekerja di lapangan ketimbang duduk menunggu orang sakit datang. Tugas pokok puskesmas adalah bagaimana agar warga yang sehat tidak sampai jatuh sakit, yang sudah sakit tidak sampai menularkan penyakit, yang lemah dikuatkan, yang kurang gizi ditambahkan, yang telanjur sakit diobati dan dinasihati agar tidak jatuh sakit yang sama lagi, dan tak sampai terjadi komplikasi.

Puskesmas memiliki program pemberdayaan masyarakat, kesehatan lingkungan, gizi dan kegiatan lain yang berhubungan langsung dengan masyarakat, namun dilematisnya di puskesmas jumlah petugas lapangan dan sarana transportasi sangat terbatas. Apalagi petugas penyuluh kesehatan atau promosi kesehatan, sangatlah minim sekali. Bahkan ada puskesmas yang sarana transportasi / kendaraan operasionalnya justru dipakai bukan petugas lapangan. Padahal banyak penyakit yang dapat dicegah dengan memberdayakan potensi yang ada di masyarakat, sehingga kejadian diare, demam berdarah, chikungunya, TBC, cacar dan penyakit lainnya dapat terhindar. Terlebih puskesmas rawat inap, seluruh petugas yang ada dikonsentrasikan untuk pelayanan rawat inap, sehingga porsi ke lapangan / masyarakat menjadi semakin berkurang.

Petugas puskesmas idealnya menyisihkan lebih dari dua pertiga jam kerjanya di lapangan, bukan duduk menunggu di poliklinik. Untuk itu, petugas puskesmas perlu menyusun program, bertemu dengan pamong dan tokoh masyarakat, kader, urun rembuk dengan masyarakat, selain menjalin kerja sama dengan sektor di luar kesehatan (lintas sektoral). Itu semua dilakukan untuk memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Misalnya, kesepakatan membuat selokan, sumur, jamban, tempat pembuangan sampah, saluran air bersih, apotek hidup, dan upaya-upaya perbaikan kesehatan keluarga lainnya, bukan semata-mata hanya memberi obat seperti lazimnya dilakukan rumah sakit.

Keberhasilan puskesmas ditentukan oleh beberapa hal, antara lain oleh semakin menurunnya angka pengunjung orang sakit, dan pengunjung yang sakit bukan mengidap penyakit yang itu-itu saja lagi. Selain itu, semakin hari mestinya semakin banyak orang sehat yang datang berkunjung. Bayi sehat datang untuk imunisasi, ibu yang minta nasihat gizi, vaksinasi kehamilan, ikut KB, dan remaja yang minta konsultasi narkoba, AIDS, seksualitas, atau masalah kejiwaan, dan pengunjung penyuluhan kesehatan semakin banyak. Di situ perbedaan besar puskesmas dengan rumah sakit. Puskesmas adalah ujung tombak, barisan paling depan sektor kesehatan, yang tahu persis masalah kesehatan masyarakat di wilayahnya, lalu berupaya mencari solusinya dengan sumber daya, dana, dan fasilitas yang tersedia. Dengan upaya-upaya preventif demikian diharapkan anggaran untuk obat semakin kecil, sebagai dampak positif dari tugas lapangan puskesmas yang semakin besar dan meluas, yang sakit menjadi semakin sedikit.

Sudah sangat dipahami bahwa sebagian besar orang sakit yang datang berobat ke puskesmas tak perlu terjadi jika semua jajaran puskesmas lebih sering datang mengunjungi warga. Seperti itu seyogianya yang menjadi model pembangunan kesehatan di akar rumput.

Tugas puskesmas yang berada di barisan terdepan, yang paling dekat dengan masyarakat, dan bukan rumah sakit, untuk memperbaikinya. Rumah sakit hanya menampung dampak buruk yang ditimbulkan jika layanan kesehatan dasar puskesmas gagal dikerjakan. Kegagalan puskesmas tecermin dari semakin membludaknya angka kunjungan rumah sakit, tanda orang sakit tak berhasil dicegah.

Jadi, yang kita butuhkan buat masyarakat akar rumput, empat perlima masyarakat kita yang masih bermasalah, memerlukan lebih banyak lagi puskesmas, bukan justru mengurangi, atau menutupnya. Peran dan kinerja puskesmas yang justru harus terus ditingkatkan agar beban rumah sakit tidak terus bertambah berat seperti terlihat sekarang.

Yang berkunjung ke rumah sakit sesungguhnya tak perlu sakit. Mereka rata-rata masyarakat yang telanjur jatuh sakit karena tidak dibina agar tidak sakit, dan penyakitnya tidak dibiarkan telanjur parah sebab tidak segera diobati selagi masih dini.

Kehadiran dan kinerja puskesmas harus menjadi tanggung jawab kita semua, bukan semata urusan bupati, kepala desa, dokter puskesmas serta jajaran sektor kesehatan belaka, melainkan keprihatinan kita semua, termasuk pamong, bahwa kesehatan adalah investasi–bukan ongkos yang terbuang percuma.

Menjadi tugas mulia setiap puskesmas untuk tidak letih – letih merawat, menjaga, memelihara sosok kesehatan seluruh masyarakat di wilayahnya, masyarakat akar rumput khususnya, agar tidak jatuh sakit yang tidak perlu, karena sesungguhnya puskesmas bisa membantu mencegahnya dengan cara murah dan sederhana.

Dengan “paradigma sehat” yang mengedepankan kegiatan preventif dan promotif di semua puskesmas, insya Allah visi Indonesia Sehat 2010 yang tinggal beberapa saat lagi akan dapat terwujud. Semoga….

By: Sumarsono


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: